PONTIANAK—Dewi Suryana, siswi kelas IX SMP Immanuel Pontianak, mengharumkan nama Indonesia di ajang bergengsi International Junior Science Olympiad (IJSO) di Kota Baku, Azerbaijan, 2-11 Desember 2009.Gadis kelahiran Pontianak 9 September 1995 ini berhasil menyabet perak di kompetisi yang diikuti berbagai negara di seluruh dunia ini. Kepala SMP Immanuel Pontianak Martin Teopilus menyatakan rasa bangga dan syukur atas prestasi internasional yang diraih anak didiknya itu. “Dewi dan teman-teman satu timnya sekarang masih di Jerman. Mereka diterima Duta Besar kita di sana. Mereka akan pulang ke Jakarta 14 Desember nanti. Kami akan menjemputnya di Jakarta. Pulang ke Pontianak sekitar tanggal 15 Desember 2009,” kata Martin ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (12/12).
Sebelum masuk dalam tim IJSO dari Indonesia, putri dari Lim Bun Phong dan Lim Hoei Luan ini harus bersaing dengan banyak peserta. Dewi harus terlebih dahulu berkompetisi dengan 45 peserta lainnya se-Indonesia untuk masuk dalam tim IJSO yang terdiri dari enam orang.“Dari Kalbar mengirimkan lebih dari dua orang peserta untuk berkompetisi di tingkat nasional. Puji Tuhan, Dewi terpilih masuk dalam tim itu. Dari enam yang terpilih, dia duduk di peringkat kedua,” katanya.Setelah terpilih, Dewi harus menjalani karantina pemusatan latihan selama 25 pekan di Bandung. Dengan jadwal yang ketat dan super padat, mereka dilatih oleh ahli science dari Institut Teknologi Bandung.
“Jadwalnya ketat. Dari pagi hingga malam di isi dengan aktivitas materi pembelajaran,” kata Martin. Dewi sendiri menjadi andalan tim Indonesia dalam bidang Fisika. “Memang Fisika dan Matematikanya bagus,” ujarnya. Secara keseluruhan, tim Indonesia dalam ajang IJSO yang memasuki tahun keenam ini mendapatkan medali lima perak dan satu perunggu.Menurut Martin, banyak manfaat yang didapatkan anak didik setelah mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini. Salah satunya membentuk etos belajar yang baik.“Ketika mereka berprestasi, bukan saja hanya kebanggan sekolah, daerah, dan negara saja. Akan tetapi, prestasi itu membuka pintu bagi anak didik untuk melanjutkan pendidikan mereka menjadi lebih baik. Seperti mendapatkan beasiswa. Tidak tertutup kemungkinan, mereka kelak akan menjadi ilmuwan dan berguna bagi kemajuan,” katanya.(zan)