Pontianak Post
|
Home | Pro Kalbar | Ketapang | Masyarakat Mengeluh Air Keruh Akibat PETI

Masyarakat Mengeluh Air Keruh Akibat PETI

Warga Dilanda Sakit Perut dan Gatal-gatal
By
Ket Photo: YP Lawai
Font size: Decrease font Enlarge font

KETAPANG – Masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Hulu Sungai dan Sandai, mengeluhkan gatal-gatal dan sakit perut, setelah menggunakan dan mengonsumsi air sungai yang melintasi desa mereka. Disinyalir air di sungai tersebut mengandung bahan berbahaya, seperti merkuri, yang diakibatkan aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di perhuluan sungai. Kejadian tersebut dialami oleh masyarakat sejak beberapa bulan terakhir.

Tokoh masyarakat Desa Sandai Kanan, Sandai, YP Lawai, mengungkapkan, sekitar enam bulan lalu, masyarakat di beberapa desa di Hulu Sungai dan Sandai, mulai mengeluhkan air sungai yang keruh. Air sungai yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci, bahkan untuk diminum, menurutnya, kualitasnya sudah tidak bagus lagi. "Sungai itu digunakan masyarakat untuk mandi dan diminum. Banyak masyarakat yang mengeluh gatal-gatal dan sakit perut setelah meminum air sungai itu. Karena sungai itu sudah keruh sekali akibat penambangan emas di hulu sungai," kata Lawai saat dihubungi Pontianak Post, kemarin (12/11) siang.
Penambangan emas tanpa izin tersebut, diungkapkan dia, dilakukan di perhuluan sungai, tepatnya perbatasan antara Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Melawi, yaitu di Kecamatan Hulu Sungai. Sungai inilah yang menurutnya, melintasi beberapa desa di dua kecamatan tersebut, Sandai dan Hulu Sungai. Di antaranya, disebutkan dia, Desa Biginci Darat atau Kampung Baru, Desa Batu Lapis, Desa Sekukun, Desa Riam Dadak, dan Desa Cinta Manis.
Lawai menjelaskan, sebelumnya memang ada penambangan emas di lokasi tersebut. Penambangan itu, menurutnya, dilakukan oleh masyarakat dari Kabupaten Ketapang dan Melawi. Namun saat itu, diakui dia, jumlahnya tidak banyak, sehingga tidak merusak kualitas air sungai. Tapi, disayangkan dia, sejak enam bulan lalu, air sungai sudah mulai sangat keruh. Karena, diprediksi dia, orang yang menambang emas di lokasi ini sudah mencapai sekitar seribu jiwa. "Kalau tambangnya sudah lama ada, tapi mulai ramai sejak setengah tahun lalu. Orang yang bekerja di sana sekitar seribu orang. (Di mana) 70 di antaranya dari Kabupaten Melawi dan sisanya dari Ketapang," jelas Lawai kepada koran ini.
Selain membuat masyarakat gatal-gatal dan sakit perut, diungkapkan dia juga bahwa habitat ikan di sungai ini sudah sangat tercemar. Diakui Lawai, ikan di sungai ini sudah tidak sebanyak dulu lagi. Ironisnya, dikatakan dia, ikan-ikan yang berhasil ditangkap oleh masyarakat juga dikhawatirkan berbahaya jika dikonsumsi. "Karena ikan itu telah meminum air sungai itu, sehingga berbahaya jika masuk dalam tubuh manusia," paparnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Lawai menyarankan kepada masyarakat untuk tidak meminum air sungai itu lagi. Dia meminta agar warga meminum air leding. Menurutnya, jika memang tidak memiliki ketersediaan leding, maka lebih baik mencari dan menggunakan air dari anak sungai.
Dia beserta ribuan masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sungai ini, berharap agar pihak-pihak terkait bisa menertibkan penambangan emas ini. Karena, aktivitas mereka, dinilai dia, sudah sangat meresahkan masyarakat. "Saya beharap ada tindak lanjut dan semua pihak bekerjasama untuk memberantas tambang emas tanpa izin ini," pinta dia.
Dia juga mengaku sudah menyampaikan keluhannya kepada Kapolda Kalbar, Brigjen Arie Sulistyo, saat melakukan kunjungan kerja dan bersilaturahmi dengan masyarakat Ketapang, kemarin (11/11). "Kapolda bilang untuk memberantasnya perlu kerjasama semua pihak, termasuk masyarakat itu sendiri. Dan saya mendukung langkah Kapolda," ujarnya.
Saat diwawancarai wartawan di Mapolres Ketapang, terkait maraknya PETI di Ketapang, Kapolda, Brigjen Arie Sulistyo, mengatakan bahwa upaya ini tidak selamanya menjadi tugas polisi. Namun, menurut Kapolda, yang lebih penting adalah masyarakat itu sendiri yang menjadi polisi bagi dirinya sendiri. "Tambang itu merusak lingkungan. Masyarakat harus menjadi polisi buat dirinya sendiri dan lingkungannya. Itu harus diawasi. Karena kebanyakan pelakunya dari luar," ungkap Arie. (afi)

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

Post your comment

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha
  • Email to a friend Email to a friend
  • Print version Print version
  • Plain text Plain text

Tagged as:

Masyarakat Mengeluh Air Keruh Akibat PETI

Rate this article

0
BACA SELANJUTNYA